GUSTI TAK MEMAKSA

Saya bersyukur karena saya lahir dan tumbuh dalam keluarga Islam, meskipun lebih cenderung berkonsep Jawa Islam-dan bukan Islam Jawa-, keluarga abangan, katakanlah. Masih ada semacam pelanggengan tradisi nenek moyang dalam ritme kehidupan saya. Saya Islam sehingga saya tidak terlalu kesulitan memperoleh kemapanan sosial: teman, pendidikan, peluang kerja. Saya ‘Islam’ dan merasa beruntung lahir dari rahim seorang muslimah di sebuah negeri yang subur Islam-nya. Segalanya jadi terasa dipermudah.

Pemikiran materialis itu terjadi sebelum saya mulai memahami Islam dengan kesungguhan yang sedikit lebih besar dari sebelumnya. Agama dalam hidup, kini saya coba posisikan sebagai suatu kelana spiritual. Hingga pada sebuah titik, lahirlah kegundahan saya.

Andaikata saya lahir dari ibu bapak yang Kristen, Katolik, Yahudi, Hindu, Budha, dan lainnya- dan katakanlah saya sudah sebegitunya cinta dan percaya pada Tuhan, aparatur, dan titah-Nya, apakah saya bisa berpaling? Saya tidak yakin bahwa saya akan sesegera mungkin bersyahadat memeluk agama lain.

Dan pasti saya benci jika dipaksa-paksa.

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah-nya menafsirkan petikan Surah Yunus ayat 99. Kasih sayang Allah yang mengangkat penduduk Ninawa (kaum Yunus) dari keterpurukan moral tidak lepas begitu saja dari kesadaran diri sang kaum pagan penyembah berhala itu. Manusia dilimpahi kebebasan, kehendak bebas memilih jalan. Akan tetapi, kebebasan itu tidak bersumber dari kekuatan manusia, melainkan merupakan kehendak dan anugerah Gusti yang Maha Memelihara.

“Ini dapat dilakukan-Nya antara lain dengan mencabut kemampuan manusia memilih dan memilah dan menghiasi jiwa mereka hanya dengan potensi positif saja, tanpa nafsu dan dorongan negatif sebagaimana halnya malaikat. Tetapi itu tidak dikehendakinya, karena Dia bermaksud menguji manusia dan memberi mereka kebebasan beragama dan bertindak. Dia menganugerahkan manusia potensi dan akal agar mereka menggunakannya untuk memilah dan memilih. (Shihab, 116)

Gusti Allah tak merestui Kanjeng Nabi Muhammad memaksa manusia agar mukmin. Toh, jika Kanjeng berhasil, Gusti Allah tak bakal menerima- sebab yang demikian adalah iman paksaan- sedang yang Dia kehendaki adalah iman yang tulus, tanpa pamrih, dan tanpa paksaan (Shihab: 161).

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya………”

Iren A.

Sumber: Shihab, Quraish. Tafsir Al- Mishbah Vol.6

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s